Makalah Etnografi Kebudayaan
ETNOGRAFI
KEBUDAYAAN
Disusun
Guna Memenuhi Tugas Ulangan Akhir Semester
Mata
Kuliah : Sosiologi dan Antropologi Dakwah
Dosen
Pengampu : Mas’udi, S.Fil.I., M.A.
Oleh
:
Nama : M. Syamsul Arifin
NIM
: 1740210055
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
DAKWAH
DAN KOMUNIKASI
KOMUNIKASI
DAN PENYIARAN ISLAM
2018
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang terkenal dengan
masyarakat yang memiliki kebudayaan beranekaragam. Pada setiap daerah, masyarakat
di Indonesia mampu mengembangkan kebudayaannya masing-masing. Kebudayaan yang
dikembangan dalam tiap-tiap daerah disebut dengan kebudayaan lokal. Kebudayaan
yang dilakukan oleh setiap umat mansuia memiliki tujuh unsur-unsur kebudayaan
yang bersifat universal. Ketujuh unsur tersebut adalah sistem religi, sistem
kemasyarakatan, sistem pengetahuan, sistem bahasa, sistem kesenian, sistem mata
pencaharian dan sistem teknologi.
Etnografi merupakan suatu kebudayaan suku bangsa.
Dalam dunia ini suku bangsa dibagi menjadi dua yaitu suku bangsa yang kecil dan
suku bangsa yang besar. Suku bangsa kecil adalah suku yang terdiri dari
beberapa ratus penduduk saja, sedangkan suku bangsa yang besar adalah suku yang
terdiri dari berjuta-juta penduduk. Maka dalam sebuah etnografi sudah tentu tidak
dapat mencakup keseluruhan dari suku bangsa yang besar. Kesatuan suku bangsa
dalam suatu komunitas bisa dilihat dari segi geografi ekologinya atau dengan
melihat suatu wilayah administratif
tertentu yang menjadi pokok sebuah etnografi.
- Rumusan Masalah
1. Apa
definisi etnografi ?
2. Apa
saja unsur-unsur kebudayaan yang ada dalam etnografi ?
3. Apa
saja jenis metode penelitian etnografi ?
4. Bagaimana
contoh kajian dalam etnografi ?
BAB II
PEMBAHASAN
- Definisi Etnografi
Etnografi berasal dari kata ethnos, yang berarti
suku bangsa dan graphein yang berarti mengukir, menulis, menggambar. Jadi
etnografi adalah tulisan deskripsi yang menggambarkan suatu suku bangsa
tertentu. Suku bangsa tertentu terdiri dari manusia-manusia meliputi :
laki-laki, perempuan, anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua. Suatu suku
bangsa juga memiliki adat istiadat dalam budayaannya. Oleh karena itu etnografi
adalah suatu suku yang memiliki fisik dan budaya tetentu.
Etnografi adalah kajian tentang kehidupan dan
kebudayaan dari suatu masyarakat atau etnis budaya, misalnya dilihat dari segi
adat istadat, hukum, seni, religi, dan bahasa. Kajian yang sangat berdekatan
dengan etnografi adalah etnologi, etnologi yaitu kajian tentang perbandingan
kebudayaan dari berbagai masyarakat atau kelompok. Etnografi juga dikenal
dengan antropologi modern.
Etnografi juga digunakan untuk mengacu pada metode
penelitian untuk menghasilkan laporan. Dalam pendekatan ahli etnologi adalah
etnografi deskriptif. “Ahli Etnografi adalah ahli arkeologi yang mengamati
arkeolognya hidup-hidup.” Bila manapun ada kemungkinan, ahli etnologi menjadi
penulis etnografi dengan cara terjun langsung ke lapangan untuk hidup di
tengah-tengah masyarakat yang ditelitinya. Ikut makan bersama mereka, berbicara
dalam bahasa mereka, dan mengadakan observasi secara pribadi terhadap kebiasaan
dan adat istiadat mereka yang dilakukan sehari-harinya.[1]
penulis etnografi berusaha menjadi “pengamat yang terlibat” (participant
observer) dalam kebudayaan yang sedang dipelajarinya. Ini berarti orang harus
terjun langsung dalam kancah pertempuran untuk mempelajari kebudayaan yang ada
di dalamnya.
Pada masa awal ini, teknik etnografi yang paling
utama digunakan adalah teknik wawancara yang panjang, yang dilakukan
berkali-kali, untuk mendapatkan beberapa informasi kunci, yaitu dengan cara
mewawancarai orang-orang tua dalam masyarakat yang kaya dengan cerita masa
lampau, tentang kehidupan yang “Nyaman” pada zaman dahulu. Tipe penelitian
etnografi ini disebut dengan “informan oriented”, karena tujuannya
adalah untuk mendapatkan gambaran masa lalu masyarakat, untuk memahami isu-isu
yang dikaji dari kaca mata budaya, untuk menambah pengetahuan mengenai suatu
budaya atau mengenal pasti corak
kebudayaan tersebut. Tujuan peneltian etnografi yaitu untuk menggambarkan
budaya subkultur dengan seperinci mungkin, termasuk dari segi bahasa,
adat-istiadat, nilai-nilai upacara keagamaan dan undang-undang. Penelitian
etnografi bermula dari penelitian antropologi yang mengamati budaya di suatu
tempat. Hal ini dilakukan oleh para peneliti awal seperti Taylor, Frazer Morgan
sekitar abad 20. Di mana penelitian lapangan ini hanya terfokus pada
perkembangan budaya suatu daerah.
Selanjutnya penelitian ini terus berkembang (modern
1915-1925). Racliffe-Brown dan Malinowski mengembangkan penelitian etnografi
yang menekankan kepada kehidupan masa kini oleh anggota masyarakat sebagai Way
Of Life suatu masyarakat. Penelitian ini berusaha mendeskripsikan dan
membangun struktur sosial budaya suatu masyarakat. Etnografi mempelajari
masyarakat dan belajar dari masyarakat. Etnografi dibagi dalam 2 bentuk
yang paling popular yaitu etnografi realis dan Etnografi kritis.
1. Etnografi
realis adalah pendekatan yang paling populer digunakan oleh para antropolog
budaya. Dijelaskan menurut Cresswell[2]
etnografi merefleksikan sikap tertentu yang diambil oleh peneliti terhadap
individu yang sedang dipelajari. Etnografi realis adalah pandangan obyektif
terhadap situasi, biasanya ditulis dalam sudut pandang orang ketiga, melaporkan
secara obyektif mengenai informasi yang dipelajari dari para obyek penelitian
di lokasi.[3]
2. Etnografi
kritis adalah jenis penelitian etnografi di mana penulis tertarik
memperjuangkan emansipasi kelompok yang terpinggirkan dalam masyarakat.[4]
peneliti kritis biasanya berfikir dan mencari melalui penelitian mereka,
melakukan advokasi terhadap ketimpangan dan dominasi. Faktor utama dalam etnografi
kritis antara lain :
a. Menyelidiki
masalah sosial kekuasaan, pemberdayaan, ketidaksetaraan, ketidak adilan
dominasi, represi, hegemoni, dan korban.
b. Para
peneliti etnografi kritis diharapkan untuk berhati-hati dalam memasuki dan
meninggalkan tempat penelitian, serta memberikan feed back.
c. Para
peneliti memberikan penelitian secara sadar, mengakui bahwa interpretasi
mencerminkan sejarah dan budaya kita sendiri.
d. Peneliti
kritis memposisikan diri dan sadar akan peran mereka dalam penulisan laporan
penelitian.
- Unsur-unsur kebudayaan
Menurut Koentjaraningrat unsur-unsur kebudayaan itu
bersifat universal, maksudnya universal ialah kebudayaan dapat ditemukan ke
seluruh bangsa yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Ada tujuh unsur-unsur
kebudayaan antara lain :
1. Sistem
Bahasa
Bahasa merupakan sarana bagi manusia untuk memenuhi
kebutuhan sosialnya untuk berinteraksi atau berhubungan dengan sesamanya. Dalam
ilmu antropologi studi mengenai ilmu bahasa disebut juga dengan istilah Antropologi
Linguistik. Dalam menggunakan bahasa kita mampu untuk menjalin komunikasi
kepada manusia baik secara lisan maupun tertulis.
2. Sistem
Pengetahuan
Sistem pengetahuan dalam sistem universal berkaitan
dengan sistem peralatan hidup dan teknologi, karena sistem pengetahuan bersifat
abstrak dan berwujud di dalam ide manusia. Sistem pengetahuan sangat luas
batasannya karena mencakup pengetahuan manusia tentang berbagai unsur yang
digunakan dalam kehidupannya.
3. Sistem
Kekerabatan dan Organisasi Sosial
Sistem kekerabatan sosial merupakan usaha
antropologi untuk memahami bagaimana manusia membentuk masyarakat melalui
berbagai kelompok sosial. Menurut Koentjaraningrat tiap kelompok masyarakat
kehidupanya diatur oleh adat istiadat dan aturan-aturan mengenai berbagai macam
kesatuan di dalam lingkungan di mana dia hidup dan bergaul dari hari ke hari.
Kesatuan sosialyang paling dekat dan dasar adalah kerabatnya, kekerabatan
berkaitan dengan pengertian tentang perkawinan dalam suatu masyarakat karena
perkawinan merupakan inti atau dasar pembentukan suatu komunitas atau
organisasi sosial.
4. Sistem
Peralatan Hidup dan Teknologi
Manusia selalu berusaha untuk mempertahankan
hidupnya sehingga mereka akan selalu membuat peralatan atau benda-benda
tersebut.
5. Sitem
Ekonomi/Mata Pencaharian
Mata pencaharian atau aktifitas ekonomi suatu
masyarakat menjadi fokus kajian penting etnografi, penelitian etnografi
mengenai sistem mata pencaharian mengkaji bagaimana cara mata pencaharian suatu
kelompok masyarakat atau sistem perekonomian mereka untuk mencukupi kebutuhan
hidupnya. Sistem ekonomi pada masyarakat tradisional, antara lain :
1. Berburu
dan meramu
2. Beternak
3. Bercocok
tanam di ladang
4. Menangkap
ikan
5. Bercocok
tanam menetap dengan sistem irigasi.
Pada saat ini masyarakat cenderung lebih
mengutamakan pekerjaannya di bidang industri dari pada sektor pertanian,
sehingga seseorang lebih mengandalkan pendidikan dan keterampilannya dalam
mencari pekerjaan.
6. Sistem
Religi
Fungsi religi dalam masyarakat adalah adanya pertanyaan
mengapa manusia percaya kepada adanya suatu kekuatan ghaib atau supranatural
yang dianggap lebih tinggi dari pada manusia dan mengapa manusia itu melakukan
berbagai cara untuk berkomunikasi dan mencari hubungan-hubungan dengan
kekuatan-kekuatan supranatural tersebut.
Keagamaan dan Nilai-Nilai Keberagamaan dalam masyarakat
pada dasarnya merupakan kepercayaan terhadap keyakinan adanya kekuatan ghaib,
luar biasa atau supernatural yang berpengaruh terhadap kehidupan individu dan
masyarakat, bahkan terhadap segala gejala alam. Kepercayaan itu menimbulkan
perilaku tertentu, seperti berdoa, memuja dan lainnya, serta menimbulkan sikap
mental tertentu seperti rasa takut, rassa optimis, pasrah, dan lainnya dari
individu dan masyarakat yang mempercayainya. Karenanya, keinginan, petunjuk,
dan ketentuan kekuatan ghaib harus dipatuhi kalau manusia dan masyarakat ingin
kehidupan ini berjalan dengan baik dan selamat. Kepercayaan beragama yang
bertolak dari kekuatan gaib ini tampak aneh, tidak alamiah dan tidak rasional
dalam pandangan individu dan masyarakat modern yang terlalu dipengaruhi oleh
pandangan bahwa sesuatu diyakini ada kalau konkret, rasional, alamiah atau
terbukti secara empirik dan ilmiah.[5]
Dalam realitas kehidupan beragama, masyarakat akan
dipertemukan dengan dinamika kehidupan keagamaan di dalamnya yang berhubungan
dengan hal-hal yang bersifat sakral. Dari sakralitas ini mereka dihadapkan
kepada keyakinan akan realitas yang dipercaya memiliki kekuatan adi kodrati di
luar dari kekuatan dirinya sebagai makhluk. Kepercayaan kepada kekuatan yang
memiliki daya magis akan hadir mengisi ruang-ruang kepercayaan dalam kehidupan
masyarakat. Sikap hidup magis berarti suatu perlawanan manusia terhadap
kekuasaan-kekuasaan yang dijumpainya.
Manusia tidak tunduk kepada kekuatan yang
dijumpainya, tetapi berdaya upaya menaklukannya. Tidak hanya dipaksanya bumi
supaya menjadi subur, binatang supaya dapat ditangkapnya dan musuh supaya
bertekuk lutut di hadapannya. Semua itu manusia upayakan dirinya mampu
menguasai akan realitas kekuatan terluar dari kekuatan yang mengitari dirinya.
Realitas keberagamaan manusia modern mengarahkan dirinya untuk menguasai dunia
dengan memusatkan segala kekuasaan ke dalam dirinya sendiri.
Mengamati realitas kehidupan masyarakat modern yang
lebih diidentikkan dengan sikap rasional dan ilmiah mereka, hal ini menjadi
berbeda dengan realitas sosial-keagamaan masyarakat Jawa Kuno yang lebih
menyakini akan kekuatan-keuatan lain di luar diri manusia. Kepercayaan akan
beberapa kekuatan yang mengejawantah kepada munculnya sikap Dinamisme akan
kekuatan di luar diri manusia mewujud sebagai fakta hakiki yang banyak dijumpai
dalam kehidupan masyarakat Jawa Kuno. Dalam realitas ini dicatat bahwa
dinamisme atau kekuasaan atau kekuatan, yang dibicarakan dalam dinamisme di
dalam ilmu pengetahuan lazim disebut “mana”. Dinamisme ialah kepercayaan kepada
suatu daya kekuatan atau kekuasaan yang keramat dan tidak berpribadi, yang
dianggap halus maupun berjasad, semacam fluidum, yang dapat dimiliki maupun
tidak dapat dimiliki oleh benda, binatang dan manusia. Jika seseorang atau
sesuatu benda dianggap “tidak mengandung mana”, maka ia tidak akan diperhatikan
lebih lanjut. Tetapi jika telah dikonstatir, bahwa sesuatu benda atau seseorang
memang “mengandung mana”, maka orang atau benda itu harus mendapat perhatian
yang istimewa.
7. Kesenian
Perhatian ahli antropologi mengenai seni bermula
dari penelitian etnografi mengenai aktifitas kesenian suatu masyarakat
tradisional. Deskripsi yang dikumpulkan dalam penelitian tersebut berisi
maengenai benda-benda atau artefak yang memuat unsur seni, seperti patung,
ukiran, dan hiasan. Penulisan etnografi awal tentang unsur seni rupa pada
kebudayaan manusia yang lebih mengarah pada teknik-teknik dan proses pembuatan
benda seni tersebut. Selain itu, deskripsi etnografi awal tersebut juga
meneliti perkembangan seni musik, seni tari, dan seni drama dalam suatu masyarakat.
Dalam tujuh unsur yang sudah dijelaskan diatas,
ketujuh unsur itu menjelma dalam tiga wujud yaitu nilai budaya, pola tindakan
dan hasil karya. Dari ketiga wujud budaya tersebut nilai budaya merupakan nilai
tingkat tinggi dari adat istiadat. Hal ini disebabkan nilai budaya merupakan
konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pemikiran sebagian besar dari warga
masyarakat tentang sesuatu yang dianggap paling penting dan berharga yang
berfunsi sebagai pedoman kehidupan masyarakat tersebut.[6]
- Jenis peneltian dalam etnografi
Jenis-jenis
penelitian dalam etnografi adalah untuk mendeskripsikan suatu pengalaman kultural
kelompok masyrakat tertentu. Adapun jenis penelitiannya antara lain :
1. Survey
Metode
survey menggunakan kuesioner atau angket sebagai instrument penelitiannya untuk
mengumpulkan data. Kuesioner tersebut ditujukan kepada sempel penelitian yang
merupakan representasi populasi.
2. Eksperimental
Data
penelitian eksperimental dikumpulkan dengan berbagai macam cara meliputi
survey, observasi, wawancara, dan sebagainya.
3. Longitudinal
Data
penelitian longitudinal juga bisa diperoleh dengan berbagai cara. Cara paling
umum digunakan adalah survey. Riset longitudinal menggunakan sampel penelitian
yang merupakan partisipan.
4. Deskriptif
Metode
penelitian ini mendeskripsikan fenomena berdasarkan pengalaman partisipan riset
dan hasil observasi. Wawancara dan observasi merupakan dua cara utama yang
digunakan untuk mengumpulkan data deskriptif.
5. Wawancara
Metode
wawancara merupakan aspek teknis dari proses pengumpulan data. Metode dengan
wawancara dimaksudkan untuk memperoleh data oral dari partisipan. Proses
pengolahan data dimulai dari transkip hasil wawancara.
6. Observasi
Observasi
juga merupakan aspek teknis dari proses pengumpulan data. Metode penelitian
observasi dimaksudkan untuk memperoleh data deskriptif hasil pengamatan
peneliti terhadap suatu peristiwa dan fenomena.
7. Studi
kasus
Metode
studi kasus diterapkan untuk memperoleh data suatu kasus yang spesifik. Data
penelitian suatu kasus bisa diperoleh melalui wawancara, observasi, pemeriksaan
dokumen dan sebagainya.
- Contoh kajian dalam etnografi
Etnografi berarti melukiskan atau menggambarkan
kehidupan suatu masyarakat atau bangsa. Oleh karena itu : seorang pekerja
antropolog dapat mendiskripsikan dan menganalisis kebudayaan, yang tujuan
utamanya adalah memahami pandangan pengetahuan dan hubungan dengan kehidupan
sehari-hari (perilaku) guna mendapatkan pandangan dunia masyarakat yang
diteliti. Kompenen yang diteliti sangat fundamental disiplin akademis
antropologi (budaya), sehingga etnografi merupakan tipe khas dalam antropologi.
Bentuk penelitian sosial-budaya yang berdasarkan
tipenya :
1. Studi
mendalam (kualitatif) tentang keragaman fenomena sosial budaya suatu
masyarakat.
2. Pengumpulan
data primer dengan pedoman wawancara.
3. Penelitian
pada sesuatu kasus secara mendalam dan komparatif.
4. Analisis
data melalui interpretasi fungsi dan makna dari pemikiran dan tindakan, yang
mengahasilkan deskripsi dan analisis secara verbal.
Berdasarkan konsep dan sejarah etnografi dapat
dibagi dalam beberapa tipe, yaitu meliputi etnogari: deskriptif/positivis,
historis, simbolik/interpretative, struktural, dan kini/kontemporer. Tipe-tipe
karya etnografi biasanya ditulis berdasarkan atau berkaitan dengan paradigma
dan teori yang dianut oleh antropologi dalam penelitian etnografi.
BAB III
PENUTUP
- Simpulan
Berdasarkan yang sudah dipaparkan diatas maka dapat
dibuat kesimpulan bahwasannya etnografi adalah kajian tentang kehidupan
dan kebudayaan dari suatu masyarakat atau etnis budaya yang menganalisis
kehidupan suatu masyarakat atau bangsa yang dilihat dari beberapa unsur-unsur
budaya yang terdiri dari :
1.
Sistem bahasa
2.
Sistem
pengetahuan
3.
Sistem
kekerabatan dan organisasi sosial
4.
Sistem peralatan
hidup dan teknologi
5.
Sistem
ekonomi/mata pencaharian
6.
Sistem religi
7.
Kesenian
DAFTAR PUSTAKA
William A. Haviland. 1985. Antropologi jilid 1.
Jakarta : Penerbit Erlangga
Creswell, J. W. 2012, Educational research: Planning
conducting, and evaluating quantitative and qualitative research (4th ed.). Boston, MA:Pearson. Jurnal Sosiologi
No.2 Tahun 2016, hal. 89
Mas’udi, Jurnal Antropologi Walisongo: Akulturasi
Budaya Islam terhadap Keberagamaan Masyarakat Kudus dalam Diseminasi Harmoni
Ajaran Islam Sunan Kudus, STAIN Kudus.
[1] William A. Haviland, Antopolog
jilid I, Jakarta : Penerbit Erlangga, 1985), hlm. 17
[2] J.W. Creswell (2012:464) vol. 9
No. 2
[3] J.W. Creswell (2012:464) vol. 9
No. 2
[4] J.W. Creswell (2012:467) vol. 9
No. 2
[5]
Mas’udi, Jurnal Antropologi Walisongo: Akulturasi Budaya Islam terhadap
Keberagamaan Masyarakat Kudus dalam Diseminasi Harmoni Ajaran Islam Sunan
Kudus, STAIN Kudus.
[6] Dedi Pranomo ,Upaya
pengemabangan masyarakat melalui seni budaya,hal. 3

Komentar
Posting Komentar